Lagi-lagi…
“Dea,
ibu hanya ingin minta tolong sama kamu, kamu kan ranking 1 dikelas. Tapi… ada
satu anak yang akhir-akhir ini nilainya turun kalau kamu gak keberatan, kamu
mau gak ajarin anak itu sampai bisa?” kata bu Wati. Dia wali kelas gue, setiap
ada murid yang nilainya menurun dia manggil gue kekantor. “hmm, boleh bu… siapa
bu nama anaknya?” kata Dea dengan wajah polos. “Fikri, akhir-akhir ini nilainya
menurun. Ibu minta tolong ya sama kamu, paling enggak kamu bantu dia
mengerjakan pr.” Kata bu Wati. “oh, iya bu…” dengan sangat berat hati gue
menerimanya.
Setelah
berjalan dari ruang kantor, Dea berjalan menuju kelas, entah apa yang ia
pikirkan sampai-sampai ia harus menabrak seseorang.
*BRUGH
“Pake
mata kalau jalan!”
“Aduh
maaf… gak sengaja.” Kata Dea.
“Iya.”
Katanya sambil pergi.
“Eh,
tunggu! Lo Fikri kan?” kata Dea
“Iya,
kenapa?”
“Mulai
sekarang lo murid gue, karena nilai lo turun jadi gue ditunjuk sama bu Wati
sebagai guru private lo!” kata Dea panjang lebar.
“oh,
atur aja semuanya.”
Ngeselin
banget tuh cowok gayanya sok cool!
Tiba
bel pulang sekolah berbunyi. Dea menceritakan semua kejadian tadi kepada Risa,
teman sebangkunya. “hahaha, emang enak jadi guru private-nya Fikri!” kata Risa.
“ih, kok ketawa? Bantuin gue kek!” kata Dea. “sorry… itu bukan masalah gue,
hahahaha. Gue gak bisa nolong yang kaya begini.” Kata Risa sambil senyum lebar.
Dea
langsung menghampiri Fikri ke tempat duduknya.
“Fik,
jam 2 ya dirumah gue. Nanti belajar matematika. Besok ada Pr soalnya.” Kata
Dea. “iya, ingetin aja. Rumah lo gang ke 3 kan?” kata Fikri. “iya Fik. Jangan
telat ya!” kata Dea.
Kok
gue jadi senyam-senyum gini? Ya, emang sih dulu gue pernah suka sama dia. Tapi
itu DULU. Sekarang gue udah tau sifatnya dia, jadi kemungkinan gue suka sama
dia tuh NOL BESAR!
-Part. 1-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar